Seven UP

*Seven-Up (7-Up)* untuk semangat perjuangan kita di pagi yg cerah ini :

1. *Get Up*
Tidak peduli berapa kali upaya kita mengalami kegagalan, mari kita bangun lagi!.💪

2. *Dress Up*
Kecantikan dari dlm jauh lebih penting daripada sekedar hiasan luar & sementara.❤

3. *Shut Up*
Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu & berkeluh kesah ttg masalah yg kita hadapi. Setiap manusia mempunyai medan perjuangannya masing-masing. Jadilah pejuang yg tangguh & berhenti mengasihani diri sendiri!.☝

4. *Stand Up*
Berdirilah teguh, yakin bahwa kita pasti berhasil.👏👋

5. *Look Up*
Jangan lihat diri kita yg sangat terbatas, tetapi lihat Tuhan Sang Khalik Pencipta kita yg tak terbatas.🙌

6. *Reach Up*
Capailah lebih tinggi dari prestasi sebelumnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

7. *Level  Up*
Tingkatkan  semua impian kita dlm doa & ucapan syukur.👏

Ketika orang lain membenci kita tanpa alasan. Ingatlah ada *Tuhan*, yang akan selalu mencintai kita tanpa alasan.😇😇

🌷🌷🌷🌷😊

Karyawan Tidak Perlu Beli Asuransi

SAYA CUPLIK POSTINGAN INI DARI SEORG SAHABAT: Kisah Nyata “Karyawan Tidak Perlu Beli Asuransi”
       

Beberapa Tahun Lalu Ketika kami menawarkan Asuransi kepada seorang Manager di sebuah Perusahaan Ternama di Bekasi, Beliau Menjawab : “Kami Tidak Perlu beli Asuransi” Karena semua Biaya Perobatan Kami akan ditanggung Perusahaan, Berapapun itu biayanya..
Mendapat Jawaban itu, kami akhirnya Mundur dan tidak lagi menawarkan asuransi di Perusahaan tersebut.
       Singkat cerita, 3 Tahun kemudian, kami bertemu dengan seorang ibu dan menyampaikan : “Mas, maafkan dulu kami menolak ketika ditawari Asuransi. beberapa bulan lalu suami saya sakit kanker dan menghabiskan biaya Rp 500 Jutaan, dan memang semua ditanggung Perusahaan, namun sepulang dari rumah sakit kondisi suami saya tidak kunjung sembuh, dan saat itu justru Suami saya menerima surat PEMBERHENTIAN dari Perusahaannya.
        Suami saya menerima Pesangon Yang tidak seberapa dan harus meninggalkan rumah dan Mobil yang diberikan sebagai fasilitas suami saya sebagai manager. Setelah menerima surat itu suami saya Drop Lagi, dan pesangon itu habis untuk biaya perobatan di rumah sakit, karena sejak suami saya DIPECAT semua biaya Rumah sakit tidak lagi ditanggung oleh perusahaan.
       Akhirnya kami benar benar kehabisan semua barang yang Kami Punya, Kami bingung mau tinggal dimana karena tidak lagi punya rumah. dan Tidak lama suami saya MENINGGAL DUNIA.DAN KAMI BENAR BENAR MEMULAI HIDUP BARU TANPA MEMILIKI APA APA DAN SAYA HARUS MEMBESARKAN 3 ANAK SAYA SENDIRI.”
Sebuah kisah nyata itu akhirnya yang membuat KAMI TERPANGGIL UNTUK MEMAKSA ANDA SEMUA UNTUK MEMAHAMI RESIKO ANDA.
Hidup penuh resiko……

Mari berasuransi!

ASURANSI UNTUK MENEBUS WARISAN (ASURANSI BUKAN JUAL INVESTASI)

“Mas, asset saya banyak, rumah sudah ada tiga.  Mobil setiap anak sudah saya kasih.  Usaha sudah jalan, jadi buat apalagi punya asuransi”.  Beberapa calon klien saya yang kaya bilang begitu, hingga kemarin seorang teman di Semarang mengutarakan problem temannya.  Jadi ini cerita temannya teman.

Sebut saja namanya Fulan.  Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya.  Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang.  Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar.  Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai.  Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu.  Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan.  Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah “mahal” itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain  Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual beli lebih dari Rp 100juta.  Uang dari mana, listrik saja menunggak?.

Teringat Fulan, saya teringat penolakan beberapa calon klien saya saat ditawari memiliki asuransi. 

Maka dalam Perencanaan Waris (Estate Planning), asuransi adalah instrumen penting.  Usaha bisa diwariskan, iya.  Tapi tak semua ahli waris bisa mengelola dan meneruskan usaha itu, boro-boro tambah maju, yang ada kebanyakan malah bangkrut.  Rumah bisa diwariskan, iya.  Tapi ternyata untuk proses “pengukuhan legalitas” nya butuh biaya yang besar, yang kadang justru membebani ahli waris.  Itu mengapa dalam kasus sengketa waris, rumah warisan adalah salah satu obyek yang terbanyak disengketakan.

Maka bila kisah anda mirip orang tua Fulan, memiliki asuransi adalah salah satu cara “membantu” ahli waris anda memuluskan jalan mereka memiliki hak mereka, secara legal.  Klaim asuransi jiwa adalah tunai, bebas pajak.  Bisa dipakai untuk menebus warisan, misalnya tergadai atau belum lunas.  Atau mungkin dipakai saat proses balik nama atau jual beli.

Jadi sekali lagi Asuransi bukan Tabungan.  Asuransi adalah bagian dari “Estate Planning”,  perencanaan waris. Tabungan (atau sebenarnya Investasi) dalam produk asuransi adalah benefit tambahan, bukan yang utama.  Yang utama adalah proteksi.  Bukan proteksi Jiwa atau Nyawa, bukan.
Tapi proteksi penghasilan, asset atau harta. 

Semoga kita semua tak seperti orang tua Fulan, yang merasa telah mewariskan harta, namun sebenarnya mewariskan “masalah” untuk para ahli warisnya.  Cukuplah kisah ini menjadi pelajaran.

Mari kita cerdas ber-Asuransi.

#1yangterpenting butuh asuransi hubungi

#AndreasTimothySutanto
#PatriciaWidyastuti
Info@JadiNomorSatu.com

Asuransi dan Pajak

INFORMASI PAJAK

Berikut beberapa point penting tentang Asuransi dan  Pajak.

– Hasil dari klaim Asuransi di Indonesia bukan merupakan obyek pajak.

– Paper Asset dalam bentuk Insurance tidak kena pajak dan berbeda dengan Property Asset

– Unit Link dibebaskan dari pajak karena ada fitur asuransi ( berbeda dengan reksadana atau jenis invesment lainnya )
Jadi mulai July 2015 tidak dikenakan pajak atas kelebihan antara penarikan dan penyetoran ( sebelumnya kena tax 20 % )

– Warisan dr Uang Pertanggungan Asuransi bukan obyek pajak di Indonesia = 0 % tax, tetapi di Jepang warisan bisa di kenakan pajak  sampai 70%. Dan di Amerika sampai 40 %.

– Hasil klaim Asuransi utk Beneficiary Owner ( bahasanya bukan untuk ahli waris – tp penerima manfaat bisa menyamping, menurun garis ke bawah ataupun untk siapapun  dan hasil klaim itu bukan obyek penghasilan kena pajak.

– Polis Asuransi tidak perlu untuk dilaporkan  dalam SPT,  di SPT th 2014 ada kolom investasi lainnya- dulu di SPT semula masuk ke kolom ini sekarang tidak perlu.

– Klaim atau withdrawal masuk sebagai  Cash Inflow saja tapi bukan penghasilan yang merupakan Objek pajak.

– Polis Asuransi di luar negeri  “return pajak tdk perlu dibawa balik” karena kalau dibawa balik ke Indonesia kena pajak hasil lain-lain, kecuali masuk sebagai warisan.

– Klaim Asuransi dari Polis Luar Negeri kena pajak sesuai ketentuan negara asal Polis tsb.

– Warisan dalam properti ketika balik nama akan kena Bea BPHTB, dan posisi  BPHTB ini bukan pajak ke Negara , tetapi masuk klasifikasi Bea  masuk ke pendapatan Daerah.

–  Jadi akan lebih baik punya warisan  dalam bentuk Polis Asuransi. Jika klaim Uang Pertanggungan  Free of tax. Warisannya juga free of tax.

– Apabila selama ini memiliki  Unreported asset tidak perlu disampaikan sebagai lampiran karena malah akan dikejar tebusan unreported asset. Jadi manfaatkan saja Tax Amnesty yang sedang dirancang  Pemerintah untuk live di September 2016.

Semoga bermanfaat.
(Irene Salaki adalah konsultan pajak yg sering dijadikan nara sumber tax planning oleh Financial Planner Association Indonesia)

#1ygterpenting butuh Asuransi hub
#AndreasTimothy Sutanto – andre@JadiNomorSatu.com
#PatriciaWidyastuti – patty@JadiNomorSatu.com

Like our FB Page :
www.AndreasTimothy.com

HANDLING OBJECTION (HO) atas respon calon nasabah yang bilang Rezeki sudah dijamin ALLAH, buat apalagi ikut Asuransi?

Sering ada yang berpendapat “Saya tidak perlu ikut asuransi. Allah sudah menjamin rezeki hambaNya. Jika suatu saat saya meninggal Insya Allah anak dan istri saya tetap tercukupi kebutuhannya.”

Pernyataan di atas memang benar tapi bukan berarti tidak ada salahnya. Dalam Al-Qur’an dan Hadist menjelaskan bahwa setiap makhluk sudah dijamin rezekinya oleh Allah.

Allah berfirman “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud: 6)
Rasulullah juga bersabda “Kalaulah anak adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

Tapi bukankah kita manusia harus tetap berusaha dan tidak hanya pasrah menunggu nasib?

Jika ada Allah pemberi rezeki, lalu untuk apa Anda bekerja demi mendapatkan sejumlah uang?

Jika ada Allah yang menyembuhkan, lalu untuk apa Anda berobat ke dokter?

Jika Allah telah menjamin Nabi Muhammad akan dimasukkan ke dalam surga, mengapa Nabi setiap harinya tetap beristighfar sebanyak-banyaknya demi mendapatkan pengampunan Allah?

Itu artinya bahwa kita harus senantiasa ikhtiar, bukan hanya sekedar berdiam diri.
Pernah ada suatu kejadian di zaman khalifah Umar bin Khattab waktu beliau selesai shalat subuh di sebuah mesjid dan hendak pulang ke rumah untuk memulai beraktifitas, beliau melihat seseorang yang sedang duduk di dalam mesjid dan sedang khusyuk berdzikir. Beliau tidak menyapa orang tersebut karena takut akan mengganggu sehingga beliau meninggalkan mesjid.

Saat waktu dhuhur tiba Khalifah Umar kembali ke mesjid untuk menunaikan shalat dhuhur dan beliau masih melihat orang tersebut, dengan posisi duduk yang sama dan pakaian yang sama. Berarti orang ini belum pernah pulang ke rumahnya dan masih menetap di dalam mesjid demikian lamanya.

Sampai tiba waktu ashar Khalifah Umar masih melihat orang tersebut, begitu pula hingga waktu maghrib dan isya. Akhirnya setelah shalat isya Khalifah Umar megatakan sesuatu kepada orang tersebut. “Keluarlah dari mesjid dan ber-ikhtiar lah! Karena Allah tidak pernah mentakdirkan emas itu turun dari langit.”

Saya pun pernah mendengar ceramah Ustadz Khalid Basalamah dan beliau pada waktu itu mengatakan bahwa rezeki itu ibarat sebuah pohon yang sedang berbuah. Ada buah yang berjatuhan ke tanah dan ada buah yang menggantung di pohon. Maka untuk mendapatkan buah yang di atas pohon kita harus berusaha (ikhtiar) misalnya memanjat pohon atau memakai tangga untuk naik ke atas pohon.

Ber-asuransi bukan berarti kita tidak beriman kepada Allah, tetapi asuransi adalah menyempurnakan ikhtiar guna mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan tidak terduga di masa depan.

Reshare from our friend ~ Bpk. Gunawan Wibisana Rfp


AlliSya ~ Allianz Syariah
Informasi mengenai Asuransi Syariah silahkan hubungi kami di SINI

TASBIH ~ Tabungan Asuransi Biaya Haji, silahkan klik di SINI untuk informasi lebih lanjuy.